Galeri Opini Riawan Paramarta

Hari ini aku berjalan-jalan di taman yang sangat luas. Memasuki minggu kedua musim semi di Inggris segalanya memang nampak berbeda. Suhu udara sudah mulai menghangat. Berkisar antara 5 sampai 13 derajat celcius. Sunguh berbeda dengan suasana musim dingin bersalju sebelumnya. Hari-hari membeku yang baru saja telah berlalu. Saat ini matahari bersinar cerah di balik gumpalan awan mendung. Udara segar. Angin semilir. Burung-burung terdengar sayup-sayup berkicau riang di atas pepohonan. Indahnya hari ini.

Sebagian pohon-pohon besar memang masih terlihat gundul. Namun bila dicermati, rantingnya penuh dengan bakalan daun dan bunga yang segera tumbuh bersemi. Kesempatan sebagus ini menjelajahi beberapa bagian taman indah nan luas ini tentu saja tidak disia-siakan tanpa mengabadikannya dengan kamera. Jepret sana jepret sini. Hasilnya lumayan juga. Foto-foto yang menguak rahasia keindahan taman inggris.

Keindahan taman Inggris memang terletak pada paduan komposisinya. Terutama di taman yang sangat luas ini. Tanahnya subur dan cenderung lembab. Pepohonan besar seperti oak, pinus, hazel, elm, willow dan banyak lainnya lagi menjadi penanda dataran peneduh suasana. Hampir seluruh permukaan taman dibalut dengan rumput yang menghijau. Menjadi permadani yang menghubungkan seluruh elemen taman yang satu dengan yang lainnya. Dipadukan dengan kumpulan tanaman perdu berbunga indah warna warni seperti daffodil, azalea, bluebells, lily dan sebagainya.

Beberapa jenis pohon yang dapat tumbuh cukup besar. Bunganya banyak dan jauh lebih lebat dari pada daunnya seperti cherry blossoms dan magnolia menjadi aksen penyedap pemandangan di taman ini. Beragam jenis tanaman besar, menengah kecil dan rumput dirangkai bagaikan bait-bait sajak dengan penekanan di sana-sini. Di tambah lagi dengan keberadaan danau yang airnya jernih. Lengkap sudah keindahan taman khas Inggris ini.

 

taman-inggris-1-riawan-paramarta1

Konsep taman air dengan pemandangan seperti lukisan ini sangat digandrungi oleh masyarakat di Inggris.

 

taman-inggris-2-riawan-paramarta

Teduhnya hati berada di taman ini. Duduk berdua dengan kekasih hati di bangku taman itu. Duh, romantisnya.

 

taman-inggris-3-riawan-paramartaLihatlah. Rumput hijau menghijau asri. Taman bersih terpelihara rapi. Air danau yang jernih. Buka mata, buka hati di sini. Serasa menikmati keindahan alunan simponi atau bait-bait sajak puisi layaknya.

 

taman-inggris-4-riawan-paramarta
Pohon cherry blossoms berbunga putih mengurai lebat di tengah lapangan rumput hijau mampu ‘mencairkan’ himpitan deretan bangunan beton bertingkat. Inilah kekuatan fungsi taman khas Inggris yang sederhana dan elegan ini.

 

taman-inggris-5-riawan-paramarta

Magnolia putih semu pink bermekaran menandai hari yang indah awal musim semi di taman Inggris.

 

taman-inggris-6-riawan-paramarta

Elemen pepohonan dipadu dengan bebatuan dan rumput ditata dengan cita rasa Inggris.

 

taman-inggris-7-riawan-paramarta

Ragam puspa aneka warna menjadi pemikat perhatian di latar depan. Tanaman dan pepohonan yang lebih besar membentuk tirai pemandangan di latar belakang. Lagi-lagi rumput menjadi unsur yang menghubungkan semuanya menjadi satu keindahan yang utuh.

 

taman-inggris-8-riawan-paramarta

Fresh. Melihat dari dekat. Cocok sekali buat ‘cuci mata’ menyegarkan pikiran.

Demikianlah.  Sekelumit pejalanan di taman luas yang mengungkap keindahan taman Inggris.

 

Inilah Industri Strategis 2.0. Pendidikan, pangan dan energi. Tanpa mengecilkan arti penting dari semua industri dan sektor lainnya. Ketiga industri inilah yang sebenarnya menjadi platform mendasar bagi industri-industri lain yang berjalan dan berkembang di atasnya. Pendidikan adalah ‘ibu’ dari segala industri. Pangan vital bagi kelangsungan hidup. Energi adalah tenaga penggerak segala sektor. Jika tiga pilar tersebut ambruk maka hancurlah masa depan suatu bangsa.

Sudah saatnya kita merubah paradigma Industri Strategis versi-versi lama menjadi Industri Strategis 2.0 yang baru. Mulai kembali berfikir dan bertindak secara fundamental dalam membangun daya saing bangsa di masa depan. Semua tantangan di masa depan butuh fondasi yang kuat bagi bangsa kita untuk menghadapinya. Dasar berpijak yang kuat untuk melakukan lompatan kemajuan besar lebih jauh lagi dalam segala bidang.

Pendidikan dengan kualitas relatif baik masih terkonsentrasi di kota-kota besar Indonesia dan tidak kunjung tersebar ke wilayah pelosok. Padahal potensi Sumber Daya Manusia Indonesia berkualitas sebenarnya ada di mana-mana. Di kota-kota dan di desa-desa. Pendidikan memberikan peluang mobilitas vertikal ke atas secara ekonomi, sosial dan budaya bagi segenap manusia. Ledakan pertumbuhan secara demografis hanya akan menjadi beban ‘liabilities’ jika tidak dikonversi menjadi ‘assets’ yang berguna melalui pendidikan.

Penyelenggara pendidikan berkualitas baik yang berkelanjutan perlu memahami aspek ‘cost’ dan ‘price’ dengan baik. Pendidikan dengan sarana lengkap dan tenaga pengajar berkualitas tentu saja membutuhkan ‘cost’ yang tinggi. Sudah bukan saatnya lagi strategi pemerataan akses pendidikan hanya dengan cara menekan ‘cost’ saja. Hal itu hanya akan mengebiri kemampuan industri pendidikan untuk berkembang. Hasilnya kebanyakan adalah fasilitas relatif rombeng dengan instruktur dan proses berkualitas asal jadi saja. Tentu saja keluaran mayoritasnya adalah SDM kualitas rendah.

Biarkan industri pendidikan berkualitas memenuhi kebutuhan ‘cost’nya yang tinggi. Sementara akses terhadap pendidikan yang harus diperluas bagi masyarakat tidak mampu melalui mekanisme ‘endowment fund’ beasiswa secara besar-besaran. Alihkan dana-dana subsidi, wakaf serta bantuan lainnya yang tadinya bersifat langsung ke institusi pendidikan untuk memperkuat dana-dana abadi beasiswa. Sehingga institusi pendidikan tergerak untuk meraih pendapatannya melalui penyampaian jasa pendidikan kepada masyarakatnya. Sehingga ‘revenue’ yang sehat dari pendidikan berkualitas yang menjadi hak institusi penyelenggara bisa terpenuhi secara profesional melalui tingkat ‘price’ yang sehat pula. Dengan demikian kualitas pendidikan bisa terus ditingkatkan. Sedangkan golongan tidak mampu tetap harus bisa mendapat akses pendidikan berkualitas melalui bantuan beasiswa melalui ‘endowment fund’ besar-besaran tadi.

Pangan hingga sampai ke meja hidangan menempuh perjalanan supply chain yang panjang. Mulai dari produksi dan ekstraksi di sawah, ladang, kebun, peternakan, sungai, danau dan lautan. Panen dan pengolahan pasca panen. Kemudian sebagian masuk ke industri pengolahan makanan baru di distribusikan ke konsumen. Sebagian lagi langsung didistribusikan dalam keadaan segar ke konsumen. Semuanya melibatkan aneka sektor terkait seperti pupuk, mesin, transportasi, konstruksi hingga jasa perdagangan grosir, eceran dan kuliner penyajian makanan.

Karena jumlah penduduknya terus bertambah banyak dan ekonomi berkembang, industri pangan Indonesia menjadi tumbuh besar ukurannya. Namun kelemahan terbesarnya adalah justru di bidang produksi dan ekstraksinya. Tingkat kemampuan produksi dan efisiensinya rata-rata rendah. Lahan-lahan paling subur di Pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya yang seharusnya ideal untuk kegiatan produksi pangan justru paling banyak dikonversi menjadi pabrik, perumahan, mal, lapangan golf dan seterusnya. Lautan Indonesia yang kaya raya hasilnya juga banyak dijarah oleh para nelayan asing.

Rata-rata tingkat kepemilikan luas lahan produksi pangan oleh para petani juga rendah. Sehingga skala produksi rendah dan mekanisasi tidak dapat berjalan dengan baik dan efisien. Nilai tambah yang tercermin dari marjin keuntungan yang rendah dibarengi dengan harga jual produk yang tidak stabil menjadikannya sebagai aktifitas bisnis yang kurang menarik dalam skala terbatas. Apalagi dalam pandangan jangka pendek. Akibatnya swa sembada pangan yang seharusnya sangat penting untuk ketahanan pangan malah menjadi timbul tenggelam terus selama ini.

Seiring dengan bertambahnya penduduk dan peningkatan ekonomi, energi juga menjadi bisnis yang sangat menggiurkan. Kebutuhan energi yang berasal dari minyak dan gas bumi serta batu bara masih terus menjadi primadona yang belum tergantikan. Hasilnya dibutuhkan sebagai bahan bakar transportasi serta pemanas. Sebagian lagi dikonversi menjadi listrik untuk keperluan industri, perumahan dan sebagainya. Indonesia termasuk negara yang beruntung karena memiliki banyak sumber-sumber potensi energi. Baik yang bersumber dari hidrokarbon fosil maupun panas bumi, energi surya, air sungai, danau dan lautan. Belum lagi potensi sumber energi hayati yang dapat diperbarui.

Tantangan di bidang minyak dan gas bumi adalah bagaimana untuk bisa terus eksplorasi menemukan ladang-ladang baru baik di daratan maupun lepas pantai. Selain itu adalah bagaimana mengelola biaya eksploitasi yang cenderung meningkat seiring dengan tahapan ‘recovery’ yang lebih lanjut. Meningkatnya kebutuhan domestik apabila tidak diimbangi dengan keberhasilan eksplorasi baru dan peningkatan laju eksploitasinya akan menimbulkan resiko Indonesia menjadi net importir di sektor ini. Permasalahan lain adalah kebijakan publik subsidi harga bahan bakar minyak yang dilematis dan menjadi perdebatan yang tidak kunjung berakhir.

Sebenarnya dengan segenap potensi yang ada akan banyak peluang baru yang terbuka. Mulai dari membangun jaringan baru pipa distribusi gas hingga ke konsumen akhir. Sampai dengan pengembangan energi tenaga hidro, angin, kelautan dan hayati yang akan menjadi sumber energi alternatif di masa depan. Terlepas dari adanya masalah ketergantungan di bidang teknologi dan keterlibatan manajemen korporasi asing di beberapa bidang energi ini, seharusnya Indonesia bisa menggunakan potensinya di bidang energi untuk memainkan peran yang lebih penting lagi dalam geopolitik internasional.

Redefinisi dan pendekatan baru mengenai pembangunan industri strategis di Indonesia sudah sangat mendesak untuk menjawab perubahan tantangan zaman di masa depan. Melakukan transformasi dari negara berkembang menjadi negara maju harusnya tetap bisa diusahakan. Apakah kita rela Indonesia selamanya menjadi negara berkembang terus? Begitu banyak peluang dan potensi yang terserak. Mampukah kita semua bahu-membahu membangun Indonesia yang lebih baik di masa depan?

Air adalah senyawa yang paling banyak membentuk tubuh manusia. Fungsinya sangat vital dalam hampir semua proses bio-fisika-kimia dalam badan kita. Seluruh metabolisme tubuh manusia melibatkan air baik secara langsung maupun tidak langsung dalam setiap prosesnya. Mulai dari bernafas, mencerna makanan, membuang kotoran, serta menghasilkan energi untuk kegiatan fisik dan mental. Semua butuh air dalam prosesnya. Bagi manusia asupan air yang memenuhi syarat kesehatan menjadi kebutuhan penting baik secara kualitas maupun kuantitasnya setiap hari.

Sebenarnya air terdapat dalam jumlah yang sangat melimpah di bumi ini. Sekitar dua pertiga permukaan bumi tertutup oleh air. Sayangnya mayoritas terbesarnya terdapat pada lautan dan samudra. Air laut terlalu asin. Mengandung kadar garam yang tinggi. Sehingga mustahil dapat dimanfaatkan secara langsung oleh makhluk daratan.

Hanya ikan-ikan dan tanaman penghuni laut yang bisa memanfaatkan secara langsung untuk kehidupannya. Manusia yang kehausan dan nekat meminum air laut pasti akan merasa bertambah haus. Yang banyak dilakukan adalah mengambil garam dari air laut untuk beragam kegunaan. Antara lain memproses ikan-ikan yang sudah mati menjadi ikan asin 😉

Kira-kira hanya 2,5% saja dari seluruh air yang terdapat di bumi merupakan air tawar. Dari jumlah itu sekitar dua pertiganya terjebak dalam bentuk es di kawasan-kawasan yang bersuhu ekstra dingin. Jadi bisa dibayangkan bahwa jumlah air tawar dalam format cairan yang tersedia dan berpotensi dapat dimanfaatkan jumlahnya sangat terbatas.

Keberadaan air di bumi juga terus berputar dalam satu siklus. Air permukaan dari danau, sungai dan laut menguap menjadi awan. Kemudian dari awan turun hujan berupa air tawar. Ada yang langsung kembali ke laut ada pula yang jatuh ke darat. Tergantung di mana lokasi hujannya.

Air hujan yang jatuh di daratan terbagi lagi menjadi dua. Ada yang disebut disebut ‘green water’ yaitu yang diserap oleh tanaman dan tanah untuk kemudian kembali menguap lagi ke udara. Dan ‘blue water’ yang terkumpul dalam sungai, danau dan yang masuk menembus tanah sehingga menjadi kandungan air tanah.

Sehingga jelas bahwa air tawar berupa ‘blue water’ inilah yang sangat berharga. Supply-nya terbatas dan kuantitasnya tidak menentu karena tergantung proses alam. Sedangkan demand-nya meningkat terus. Terutama dipicu oleh ledakan jumlah penduduk yang semakin bertambah pada hampir semua kawasan di dunia. Dikombinasikan dengan peningkatan kondisi ekonomi, sosial dan budaya. Hasilnya adalah demand air tawar yang di konsumsi secara langsung maupun tidak langsung oleh penduduk dunia cenderung terus meningkat setiap waktu.

‘Blue water’ yang berharga ini menjadi sumber untuk pemenuhan kebutuhan pangan sebagai input untuk kegiatan pertanian,peternakan, perikanan, dan bahan baku produksi air bersih untuk kebutuhan minum dan kegiatan sehari-hari maupun kebutuhan industri. Aneka ragam kepentingan ini semua memperebutkan sumber-sumber air yang sama. Yaitu sungai, danau dan air tanah.

Keberadaan air permukaan di daratan berupa sungai dan danau kuantitasnya tidak menentu. Pada saat musim hujan jumlahnya meningkat. Efek dari penggundulan hutan dan konversi lahan-lahan hijau menjadi ‘hutan’ beton bangunan perumahan dan pembangunan industri yang tidak terkendali adalah banjir.

Begitu banyak air yang tercurah dari hujan menjadi percuma. Tidak dapat dimanfaatkan dan malah menjadi bencana. Air mengalir terlalu deras dan cepat dipermukaan. Kurang banyak yang merembes ke dalam tanah untuk memupuk cadangan air tanah. Sedangkan pada musim kering, jumlah air sungai, danau dan air tanah menyusut drastis bahkan mengering. Sehingga sering menimbulkan krisis pasokan air.

Masih ditambah lagi dengan masalah pencemaran yang menurunkan kualitas air baku di sungai, danau dan air tanah. Berupa pencemaran dari sampah serta limbah perumahan dan industri. Hal ini menyebabkan pengolahan air baku menjadi air bersih semakin sulit, butuh teknologi yang lebih canggih dan berujung pada biaya produksi air bersih yang semakin mahal.

Saat ini sekitar seperlima dari penduduk dunia tidak memiliki akses terhadap air bersih. Jumlahnya setiap saat terus bertambah. Sehingga suka atau tidak suka air tawar apalagi yang telah menjadi air bersih akan menjadi komoditas yang semakin strategis di masa depan.

Di balik setiap krisis tentu saja akan bertabur peluang. Air minum dalam kemasan laku di mana-mana dan mampu berkembang menjadi bisnis besar telah menjadi fenomena global. Di beberapa kawasan dunia, sumber-sumber air baku juga mulai dikelola secara bisnis dengan lebih profesional oleh pihak-pihak yang berwenang.

Masa depan air tawar memang berada di simpang jalan. Dari suatu komoditas hajat hidup orang banyak yang mungkin ‘gratis’ serta bersifat sosial menjadi komoditas ekonomi yang bernilai bisnis semakin tinggi di masa depan. Umat manusia dihadapkan pada tantangan besar yaitu krisis air tawar dan menjelmanya air tawar menjadi komoditas strategis yang bahkan mungkin menjadi sumber konflik kontemporer di masa depan. Sadarkah kita? Mampukah kita menemukan solusi terbaik bagi semua permasalahan tersebut?

Hidung seharga satu pound memang hanya ada di Inggris. Bukan hanya satu. Tapi jutaan hidung. Terjual. Lantas orang ramai-ramai memakainya pada pada 13 Maret 2009 ini. Di rumah-rumah, sekolah-sekolah dan tempat-tempat kerja. Lho? Bukankah manusia sudah punya hidung? Mengapa harus memakai hidung lagi?

Sejak 21 tahun yang silam, hari tersebut setiap tahunnya dirayakan dengan bersenang-senang di Inggris. Bertukar lelucon, tebak-tebakan konyol dan aneka permainan lainnya. Tentu saja sambil memakai hidung seharga satu pound itu tadi. Hidung yang terbuat dari karet warna merah. Seperti layaknya dipakai oleh badut-badut sirkus.

Dibalik semua kehebohan tersebut. Ini adalah upaya besar-besaran untuk menggalang dana sosial bertajuk ‘comic relief’. Dari setiap hidung merah yang terjual. Tujuh puluh persennya disisihkan dan mengalir sebagai sumbangan. Bagi mereka yang sangat membutuhkan bantuan. Bukan hanya untuk mereka yang tinggal di Inggris. Namun juga ke berbagai negara di belahan bumi lainnya. Terutama Afrika.

Tahun ini perayaannya adalah yang terbesar selama ini. Ada tiga karakter hidung merah yang diluncurkan. Pertama, seperti wajah tertawa terbahak-bahak. Namanya ‘This one’. Kedua, seperti muka berkaca mata yang tersenyum lebar. Bernama ‘That one’. Ketiga, seperti tampang dengan ekspresi terkejut. Dengan nama ‘The other one’.

Bukan hanya jenis-jenis hidung merah saja yang dijual untuk mengumpulkan dana sosial. Berbagai produk ‘turunan’ si hidung merah ini juga laris manis mengalirkan dana bantuan. Rata-rata menghasilkan dana bantuan tujuh puluh persen dari harga jualnya. Ada pin, stiker magnetik untuk ditempel di ‘hidung’ mobil, bola bergetar, bando, hingga bantal untuk duduk. Semua bertema si hidung merah yang lucu itu.

Di samping melalui penjualan produk-produk. Penggalangan dana bantuan juga dilakukan melalui sumbangan langsung. Uniknya, semua orang yang berminat bisa bertindak sebagai penggalang dana dari lingkungan sekitarnya. Dengan menggunakan kit penggalangan donasi yang tersedia.

Hal yang menonjol adalah perencanaan dan implementasi marketing event ini. Melibatkan banyak mitra dalam pelaksanaannya. Seperti Sainbury’s, TK Maxx, BT, KIA, Oracle, HP, PayPal dan banyak lagi. Tema kegiatan yang diangkat dalam pemasarannya adalah ‘Do something funny for money’. Langsung mengena. Tanpa basa-basi.

Petunjuk pelaksanaan juga lengkap sekali. Contohnya adalah dalam kemasan penjualan hidung merah ini dilengkapi stiker-stiker kecil untuk memperkuat ‘positioning’ kegiatan ini. Terdapat pula ‘brosur’ kecil. Berisi contoh-contoh tebakan guyonan. Memancing kreatifitas untuk menghasilkan guyonan-guyonan baru lainnya. Serta menjadi ‘hafalan’ bagi mereka yang kurang kreatif. Intinya supaya semua bisa partisipasi. Dengan memakai hidung merah. Diharapkan semua bisa melucu.

Sasaran penyaluran bantuan juga jelas. Di Inggris disalurkan kepada orang muda, orang yang memiliki masalah kesehatan mental, orang lanjut usia, pengungsi & pencari suaka, komunitas yang tidak beruntung serta korban kekerasan domestik. Untuk tahun ini difokuskan bagi orang muda yang memiliki masalah dengan alkohol, tuna wisma, problem kesehatan mental dan pelaku prostitusi.

Sedangkan untuk bantuan internasionalnya, tahun ini difokuskan untuk Afrika. Benua yang dirundung banyak masalah sosial dan kemanusiaan yang parah. Yaitu mereka yang terpengaruh oleh HIV & AIDS, ibu-ibu & para gadis, orang-orang yang menjadi korban konflik, para penghuni kawasan kumuh urban dan mereka yang dirugikan oleh sistem perdagangan internasional yang tidak adil terhadap negara-negara miskin.

Puluhan jenis paket bantuan juga dirancang secara seksama. Dari yang bernilai satu pound untuk bantuan makan orang tidak mampu di Inggris. Hingga paket-paket pinjaman mikro bergulir untuk usaha. Sampai yang terbesar adalah paket senilai dua ribu pound untuk mendidik setiap seorang suster paramedik yang sangat diperlukan di Afrika.

Pada tahun ini, upaya nasional di Inggris ini kelihatannya akan menghasilkan dana bantuan sosial bernilai jutaan atau bahkan puluhan juta pound. Satu jumlah yang sangat besar. Semuanya dimulai dari ide jenaka sederhana. Pasang hidung seharga satu pound pada hidung yang asli. Pesta besar guyonan sambil beramal. Luar biasa. Indah sekali. Demikian sekelumit pengamatan dan pengalaman saya. Orang Indonesia yang kebetulan sedang berada di Inggris pada ‘Red Nose Day 2009’.

Ini lho yang namanya ‘This one’. Red Nose Day. Hahahaha….

Sebagai industri yang penuh gebyar, telekomunikasi dan sekitarnya pasti menjadi sorotan masyarakat. Produk-produknya memang canggih. Memiliki daya guna modern yang tinggi. Sehingga banyak yang menjadikan kepemilikan perangkat dan akses terhadap jasa-jasa telekomunikasi terbaru sebagai barometer. Baik untuk mengukur daya saing usaha maupun sekedar untuk mengangkat gengsi individu di mata masyarakat.

Ukuran bisnis yang besar dan sejauh ini masih terus berkembang memang sungguh menarik. Perkembangan teknologi dan perluasan lingkup persaingan menyebabkan konvergensi antara industri telekomunikasi, komputer dan konten tidak dapat dihindarkan lagi. Ketiga industri tersebut terus semakin menyatu menjadi sebuah mega industri yang batas-batasnya serta skala dan dinamika persaingannya terus tumbuh.

Akibat dari konvergensi tersebut tentu saja berpengaruh dalam membentuk struktur industri telekomunikasi yang baru. Salah satu cara yang paling sederhana dalam melihat struktur industrinya adalah dengan membagi menjadi 4 lapisan besar yang saling terkait dengan erat. Yaitu pabrikan, infrastruktur, jasa-jasa (services) dan konten. Dari konvergensi dan struktur industri yang berlapis-lapis ini menyebabkan kondisi industrinya menjadi rumit dan kompleks.

Sisi lainnya yaitu pasarnya di Indonesia juga menunjukkan fenomena kompleksitas yang luar biasa. Dilihat dari kondisi geodemografis negara kepulauan dengan ribuan kepulauan tersebar di wilayah yang begitu luas. Namun sekitar separuh lebih penduduknya terkonsentasi di Jawa. Perkembangan ekonomi yang tidak merata juga berpengaruh besar pada terbentuknya daerah urban, sub urban dan pedesaan.

Ada megapolitan seperti Jabodetabek. Ada kota besar seperti Bandung, Surabaya, Medan dan Semarang. Ada pulau dengan karakter unik seperti Bali dan lainnya. Ratusan kota-kota yang lebih kecil dan kabupaten serta ribuan kawasan pedesaan, ‘remote’ area serta berbagai kawasan ‘pedalaman’. Semuanya berkontibusi terhadap profil pasar yang amat beragam.

Profil kependudukan berdasarkan usia kurang lebih berbentuk seperti piramida. Artinya penduduk berusia yang lebih muda lebih banyak jumlahnya dari yang berusia lebih tua. Kemampuan memanfaatkan kesempatan untuk produktif berbeda-beda. Ada yang menjadi wirausaha yang memberi lapangan kerja, kebanyakan lainnya menjadi karyawan, pekerja independen atau sedang studi, serta sebagian sisanya menganggur.

Perbedaan daya beli konsumen juga sangat beragam. Dari yang mampu membeli rumah dan mobil mewah berharga miliaran rupiah hingga yang perlu mendapatkan bantuan raskin. Hal-hal tersebut juga memberikan peran dalam terjadinya ‘digital devide’. Satu istilah untuk membedakan kaum yang memiliki akses terhadap sistem teknologi digital dengan yang tidak memiliki akses.

Latar belakang etnis, agama dan bahasa daerah yang berbeda-beda juga memperkaya keragaman budaya di Indonesia. Pengaruh globalisasi dan deras masuknya budaya asing dalam kehidupan kontemporer juga berpengaruh pada transformasi sistem tata nilai di masyarakat. Dalam kebanyakan kasus, melakukan segmentasi pasar berdasarkan geodemografis saja menjadi kurang memadai lagi sebagai modal dasar untuk meraih sukses pasar yang berkelanjutan dalam industri telekomunikasi dan sekitarnya.

Segmentasi berdasar geodemografis saja tentunya kesulitan untuk menjelaskan mengapa kadang-kadang ada orang yang kaya raya namun justru lebih hemat dalam mengeluarkan biaya telekomunikasi dan sekitarnya dibanding dengan orang-orang yang relatif miskin. Untuk menggambarkan fenomena yang lebih kompleks seperti gaya hidup dan perilaku konsumen memang membutuhkan segmentasi psikografis dan behavioralistic.

Segmentasi psikografis dapat mencakup aspek aktifitas, minat, opini, attitude dan tata nilai. Sedangkan unsur-unsur segmentasi behavioralistic dapat meliputi tingkat penggunaan produk, loyalitas terhadap merek, berpindah operator (churning), tingkat kesiapan untuk membeli dan seterusnya.

Segmentasi di dalam marketing ibaratnya adalah seperti peta kontur permukaan bumi yang dihasilkan oleh geodesi sebagai dasar informasi perencanaan untuk pekerjaan rancangan arsitektur dan rekayasa konstruksi skala besar. Tanpa memiliki informasi segmentasi yang relevan tentunya kegiatan perencanaan dan implementasi marketing yang baik akan sulit dilakukan.

Makin hari makin banyak dan beragam kebutuhan segmentasi dalam industri telekomunikasi dan sekitarnya. Hal ini tentunya membutuhkan upaya besar yang konsisten berkesinambungan untuk memelihara kesegaran dan relevansi datanya. Apalagi untuk segmentasi psikografis dan behavioralistic pada pasar telekomunikasi dan sekitarnya yang terus berubah semakin cepat.

Hal lain yang menarik adalah asal mula dari keunggulan daya saing dalam industri telekomunikasi dan sekitarnya ini. Ternyata lebih kepada daya saing yang sifatnya muncul dari kegiatan wirausaha (schumpeterian rent) dari pada kelangkaan sumber daya (ricardian rent). Hal ini sangat berbeda dengan industri pertambangan misalnya yang sangat bergantung awal mulanya pada model ricardian rent.

Oleh karena itu dalam industri telekomunikasi dan sekitarnya kemampuan untuk menarik sumber-sumber pembiayaan serta kemampuan melakukan pendanaan capex dan opex yang tepat guna menjadi sangat penting. Uang memang bukan segalanya dalam industri ini. Namun pengelolaan keuangan yang bijaksana akan semakin penting untuk menyelamatkan tingkat profitabilitas yang bisa saja menjadi tertekan di dalam industri yang makin berat dan luas persaingannya ini.

Faktor teknologi pengaruhnya cukup dominan dalam industri telekomunikasi dan sekitarnya ini. Teknologi makin sering berubah dengan kecepatan tinggi. Bukan hanya berkembang tapi juga acapkali berganti platformnya. Hal ini seiring dengan perkembangan digitalisasi yang semakin lanjut. Perkembangan information technology alias IT turut mewarnai perangkat-perangkat telekomunikasi dan sekitarnya yang makin lama makin ‘cerdas’.

Perangkat switching, transmisi, akses dan perangkat konsumen baik untuk sistem kabel maupun nirkabel pada dasarnya telah menjelma menjadi semacam sistem ‘komputer raksasa’ yang saling terhubung baik secara hardware maupun software. Istilah-istilah teknis seperti GSM, CDMA, EVDO, ATM, IP TV, Wimax, NGN, Open Source, Cloud Computing, Broadcasting, Multiple Casting, DirectTo Home, Gaming, On Demand Services dan seterusnya terus mewarnai perbendaharaan aspek teknologi yang harus dikuasai oleh para pemain dalam industri.

Begitu banyaknya peluang dan tantangan yang muncul dalam industri telekomunikasi dan sekitarnya ini. Sehingga kegiatan pengembangan produk baru menjadi aktifitas penting beresiko tinggi yang seringkali bersifat ‘maju kena, mundur kena’. Apabila produk baru dikembangkan, belum tentu bisa mendapatkan pasar baru atau mampu menggantikan produk lawas yang mulai ketinggalan jaman. Namun jika tidak dilakukan, sudah pasti tidak akan mampu meraih pasar baru dan sulit mempertahankan pasar eksistingnya dalam jangka panjang.

Ciri lainnya yang perlu diwaspadai dalam pengelolaan industri ini adalah daur hidup produk (product life cycle) yang cenderung semakin pendek. Intensitas persaingan usaha yang makin tinggi dan makin luas cakupannya serta perubahan teknologi yang cepat juga menimbulkan resiko kegagalan produk dan bisnis yang makin besar pula. Industri ini memang membutuhkan banyak kreatifitas dan imajinasi agar dapat berhasil dalam pengembangan, pengemasan, supply chain dan penjualan produknya.

Oleh karena itu industri telekomunikasi dan sekitarnya ini membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, semangat kerja sama dan pendekatan multi disiplin agar efektif dan efisien pengelolaannya. Kemampuan kepemimpinan yang visioner dan mampu mengoperasionalkan visinya juga menjadi salah satu kunci keberhasilan penting dalam menavigasi dan mengarahkan bisnisnya dalam lingkungan usaha yang penuh dinamika. Memang sungguh ‘state of the art’ bisnis industri telekomunikasi dan sekitarnya ini.

Telekomunikasi sesungguhnya adalah bisnis yang telah cukup tua usianya. Semenjak Alexander Graham Bell menemukan teknologinya pada tahun 1876 di AS dan kemudian sukses membangun cikal bakal bisnis Bell Telephone Company setahun kemudian, perkembangan bisnis ini seakan tak terbendung lagi. Merambah terus ke seluruh dunia hingga saat ini. Keunikan jaringan telekomunikasi adalah keterbukaannya dan saling keterhubungannya. Satu sistem komunikasi baru layak disebut sebagai telekomunikasi apabila dapat saling menghubungi jaringan-jaringan telekomomunikasi lainnya. Telekomunikasi telah berjasa menghubungkan wilayah-wilayah di seluruh pelosok dunia yang berada dalam jangkauan cakupannya.

Dalam era telekomunikasi modern sekarang ini, pertempuran bisnisnya terjadi pada empat level yang berbeda. Terjadi secara paralel dan simultan. Pertama, di tingkat pabrikan alat-alat telekomunikasi. Kedua, di tingkat infrastruktur telekomunikasi yang membangun dan mengoperasikan jaringan telekomunkasi. Ketiga, di tingkat Service yang memberikan beragam layanan akses telekomunikasi kepada pengguna. Terakhir, yang ke empat, di tingkat bisnis Content yaitu segala sesuatu yang lalu lalang, mengalir dalam saluran telekomunikasi. Mulai dari content yang sifatnya ‘self content’ seperti obrolan sesama kita lewat telepon. Sampai dengan content yang dipersiapkan secara canggih seperti video on demand, siaran langsung liga primer sepak bola Inggris dan sebagainya.

Pada level bisnis pabrikan dan infrastruktur, banyak di dominasi oleh perusahaan-perusahaan besar berskala gobal, minimal berskala nasional atau regional. Sifatnya padat teknologi dan padat modal, tapi karena cakupan geografi layanan bisa sangat luas, maka jumlah pekerja yang terlibat di dalamnya bisa sangat banyak juga. Bisa mencapai jumlah ribuan sampai ratusan ribu pekerja di dalam setiap perusahaannya.

Sedangkan pada level bisnis Service dan Content, melibatkan beragam skala besarnya perusahaan didalamnya. Ciri yang menonjol adalah kreatifitas dalam pengemasan produk dan marketingnya. Saluran distribusi untuk menjangkau customernya juga bisa bertingkat-tingkat dan sangat panjang. Seperti yang terjadi di saluran distribusi penjualan pulsa isi ulang di Indonesia, mulai dari operator, main dealer, sub-dealer dan seterusnya sampai ke pengecer di pinggir-pinggir jalan. Secara keseluruhan jumlah pekerja yang terlibat di level bisnis Service dan Content ini juga tidak kalah besar dibanding dengan di level pabrikan dan infrastruktur.

Kondisi persaingan usahanya sangat komlpleks. Ada perusahaan yang bermain di satu level saja, seperti NEC (Jepang) dan Hua Wei (China) di bisnis pabrikan. Adapula perusahaan seperti Disney dan Miles (produser film Laskar Pelangi) yang bermain di bisnis Content saja. Ada pula yang bermain di beberapa level sekaligus, seperti LG di Korea Selatan menggeluti bisnis pabrikan, infrastruktur dan Service. Di Indonesia, PT Telkom memulai dari bisnis infrastruktur serta service dan saat ini telah merambah sampai ke bisnis Content juga.

Selain itu, industri telekomunikasi penuh dengan jalinan kerjasama, aliansi, dan saling bersaing pada saat yang sama (Co-opetition). Nokia-Siemens sepakat untuk bekerja sama memproduksi dan memasarkan peralatan jaringan telekomunikasi. Namun pada saat yang sama Nokia dan Siemens saling bersaing berebut pasar terminal telepon genggam. Yang jelas, selama ini bisnis telekomunikasi telah tumbuh dengan kecepatan tinggi di semua level bisnisnya sehingga menjelma menjadi suatu bisnis besar yang sangat menarik, penuh gebyar dan ‘sexy’.

Setelah melihat industri telekomunikasi tumbuh begitu kuat. Maka pertanyaan yang timbul adalah pada masa krisis keuangan global saat ini, sanggupkah bisnis telekomunikasi menepis terpaan krisis? Bisnis telekomunikasi secara agregat pada dasarnya telah memiliki basis pengguna dalam jumlah sangat besar di seluruh dunia. Dari sudut pandang perilaku pengguna individual, telekomunikasi adalah kebutuhan penting setelah pangan, sandang, dan transportasi. Bagi pengguna industri, telekomunikasi sudah merupakan faktor input krusial untuk memompa keunggulan daya saing dan merebut pasar. Pasar telekomunikasi global nampaknya tetap akan tumbuh meskipun dengan kecepatan yang jauh lebih rendah. Penurunan Average Revenue Per User (ARPU) masih akan terus terjadi dan ditandai dengan bertambahnya jumlah fakir miss call di kalangan pengguna telekomunikasi :-))

Akumulasi keuntungan yang jumlahnya besar di level industri selama ini tentunya akan tercermin dalam struktur permodalan di banyak perusahaan telekomunikasi yang sudah sukses selama ini. Secara umum, dalam kondisi krisis pasokan dana segar dari pasar modal akan sangat melemah atau bahkan nihil dan pinjaman kredit dari perbankan akan menjadi pilihan yang sangat mahal. Maka kekuatan modal sendiri dan akumulasi laba yang ditahan selama ini akan menjadi faktor penentu untuk memperkirakan perusahaan telekomunikasi mana saja yang mampu bertahan sampai badai krisis berlalu. Hanya perusahaan-perusahaan telekomunikasi yang memiliki cadangan dana internal besar sehingga mampu menjalankan strategi ‘deep pocket’-lah yang bakal bertahan. Hal ini nampaknya berlaku bagi bisnis telekomunikasi di level global maupun nasional.

Khusus bagi para pemain bisnis telekomunikasi di Indonesia ada persoalan tambahan yang harus dihadapi yaitu kandungan impor perangkat telekomunikasi sangat tinggi. Sehingga notabene harus dibiayai dengan mata uang asing. Sedangkan pendapatan perusahaan telekomunikasi mayoritas dalam rupiah. Upaya pembangunan infrastruktur baru akan mengalami banyak hambatan karena terekspos resiko eskalasi biaya dalam rupiah akibat merosotnya nilai tukar rupiah serta kelangkaan dolar untuk membiayai pengadaan peralatan telekomunikasi impor. Persoalan pendapatan atau revenue juga bertambah sebagai akibat tingkat persaingan di antara para operator telekomunikasi domestik telah mencapai tingkat ‘gawat darurat’ akibat perang tarif yang terjadi selama ini.

Pembangunan infrastruktur baru dapat saja akan melambat, menemui banyak hambatan atau bahkan berhenti sementara waktu sampai dengan keadaan mulai stabil kembali. Para operator telekomunikasi bisa jadi cenderung untuk melibatkan para vendor dan kontraktor untuk turut menanggung beban pembiayaan infrastruktur baru dengan cara pembayaran dilakukan sesuai dengan proporsi pendapatan yang masuk ke operator setelah infrastruktur baru tersebut dioperasikan. Hal ini berarti bahwa jangka waktu termin pembayaran menjadi lebih panjang. Hal ini akan menjadi tekanan berat bagi bisnis telekomunikasi level pabrikan dan para kontraktor pembangunan pendukungnya.

Meskipun dari segi marketing persaingan di antara operator wireless telecommunication di Indonesia akan tetap sangat tinggi, namun dari segi operasional mereka dihadapkan pada pilihan logis yaitu berbagi penggunaan tower BTS dengan para operator pesaing dalam rangka penghematan biaya. Bahkan sejauh secara teknis dimungkinkan, tidak menutup kemungkinan tower-tower BTS dari para operator berbeda yang lokasinya sama akan dirasionalisasikan jumlahnya menjadi seminimal mungkin untuk digunakan secara bersama. Tower-tower yang tidak terpakai lagi dapat direlokasi ke tempat yang baru untuk perluasan cakupan daerah layanan dan akan digunakan secara bersama pula.

BAD NEWS IS GOOD NEWS adalah pepatah abadi di dunia bisnis media. Pada masa krisis keuangan global seperti sekarang ini bad news melimpah ruah, audiens yang cemas dengan krisis makin rajin mengikuti perkembangan keadaan yang memburuk di berbagai sektor lewat media dengan detak jantung yang semakin berdebar tidak karuan. Di picu oleh anjloknya kinerja surat berharga berbasis ‘KPR’ di AS yang kemudian disusul oleh indeks harga saham di Wall Street terjun bebas. Dampaknya langsung menghantam sektor keuangan global secara telak. Karena sistem keuangan global telah terjalin begitu terpadu. Pada saat krisis yang menggulung sistem keuangan AS yang ukuran ekonominya paling besar di dunia. Maka gelombang pengaruhnya terasa bak tsunami di mana-mana di muka bumi ini. Bursa saham lainnya termasuk di Indonesia dilanda kepanikan. Indeks harga saham turut ambruk di mana-mana. Bunga bank naik dan menjadi langka pula supply kreditnya.

AS menyiapkan dana talangan 700 milyar dolar untuk lembaga keuangannya! Satu juta rumah tangga di Inggris tidak mampu membeli gas untuk menghangatkan rumahnya pada saat winter!! Pemerintah Indonesia sibuk menyelamatkan nilai tukar rupiah!!! Semua berharap Obama mampu mengatasi keadaan!!!! Semua menjadi headline yang laris manis di konsumsi dan di beli oleh audiens media. Di balik setiap krisis memang selalu ada peluang. Industri media dan segala yang terkait dengannya justru akan menuai peluang yang bertebaran di mana-mana. Siaran TV, Radio dan Internet akan menjadi kebutuhan penting. Bukan hanya berita tapi juga content entertainment akan laris manis di mana-mana. Masyarakat yang stres diterpa krisis juga makin butuh hiburan sebagai pelipur lara kepedihan hidupnya.

Berbahagialah anda yang berada di industri media. Inilah saat yang tepat bagi anda untuk menangkap peluang untuk terus mengembangkan bisnis anda!! Namun kalau sudah sukses jangan lupa berbagi dengan mereka yang kurang beruntung. Dengan kaum papa yang menjadi korban krisis. Dengan mereka yang miskin akses informasi sehingga tak pernah paham dari mana asal-muasal kesengsaraannya. Karena kesuksesan bisnis media seringkali dibangun di atas penderitaan dan musibah yang menimpa orang lain. Tapi kemudian laris dikonsumsi setelah dikemas apik jadi berita. Itu yang seringkali kita lupa.

 

Krisis keuangan global? Semua orang sudah tahu dan merasakan dampak akibatnya. Harga saham yang jatuh di mana-mana?? Sudah bukan kejutan lagi. Di tengah harga barang-barang yang terus naik membubung tinggi. Ada satu harga yang malah terus melorot dihantam inflasi. HARGA DIRI. Waaaspadalah!!….Waaaassspadalah!!!

Saat ini tanggal 9 Maret 2009. Telah lebih dari 5 bulan krisis keuangan global berlangsung dan dampaknya masih terasa hingga hari ini. Hal ini membuat kita menjadi prihatin. Krisis yang terjadi belum berlalu. Namun dunia masih akan terus dihantui dengan kemungkinan krisis yang akan terus berulang. Mengapa krisis keuangan global bakal selalu terulang? Inilah faktor-faktor yang menjadi alasannya:

1. Adanya sinergi antara sistem komputer dengan telekomunikasi menyebabkan sistem keuangan gobal menyatu menjadi jaringan yang makin hari makin terpadu. Uang dari lembaga keuangan yang satu dapat berpindah secara cepat ke lembaga keuangan lainnya tanpa banyak terhambat oleh batas-batas kedaulatan negara (borderless).

2. Capital has no flag. Modal akan cenderung mengalir secara gobal menuju ke wilayah yang paling nyaman (baca: perbandingan antara tingkat pengembalian modal dan resiko sesuai dengan harapan pemilik kapital). Aliran kapital antar negara cenderung mengabaikan batas-batas negara, ideologi, politik dan sebagainya sejauh perbandingan antara tingkat pengembalian modal dan resikonya dianggap optimal oleh pemilik modal.

3. Fungsi uang pada awalnya adalah sebagai alat tukar pembayaran dalam kegiatan perdagangan. Namun saat ini fungsi uang sudah melebar sampai menjadikan uang itu sendiri sebagai ‘komoditi’ yang diperdagangkan. Contoh membeli dolar amerika dengan rupiah pada waktu kurs 1 USD = 9.250 IDR dan di jual manakala kurs 1 USD = 11.650 IDR dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan dari perdagangan uang. Saat ini volume uang beredar yang alih fungsi sebagai komoditi perdagangan jauh lebih besar dari volume uang yang digunakan untuk perdagangan internasional sektor riil.

4. Faktor ekonomi dan politik telah menjadi jalinan antar dua kepentingan yang berbeda namun sangat akrab seperti layaknya dua sisi mata uang. Ekonomi bisa maju atau ambruk boleh jadi adalah sebagai akibat keputusan-keputusan dan lobi-lobi politik. Sebaliknya kekuatan ekonomi juga mampu membiayai serta mempengaruhi jalan dan arah perubahan politik di suatu negara atau masyarakat. Fenomena keakraban politik-ekonomi semacam ini sudah menjadi kelaziman serta berpotensi rawan berubah menjadi kezaliman di tingkat lokal maupun global.

5. Konsep ‘time value of money’. Dalam konsep ‘time value of money’ yang namanya uang itu dengan berjalannya waktu diharapkan selalu tumbuh dan berbunga. Oleh karena itu dalam konsep ini uang harus di’karya’kan dan tidak boleh ‘nganggur’. Bagus bukan? Dari sisi ini memang dapat dilihat sisi positif sebagai pemacu kegiatan ekonomi. Namun jangan lupa ada sisi lain yang bisa menyebabkan miss-match dalam kegiatan investasi di sektor riil maupun investasi di pasar modal dan pasar uang yang dibiayai oleh pola pinjaman berbunga. Pinjaman dengan pola berbunga biasanya memiliki nilai bunga yang diperjanjikan secara ‘pasti’ misalnya sekian persen meskipun dapat juga ‘floating’ alias mengambang sesuai dengan kondisi pasar kredit namun pasti akan ada bunganya. Sementara pengusaha yang mendapatkan kredit dengan bunga yang ‘pasti’ itu kebanyakan menemui kenyataan bahwa hasil pendapatan dari investasi yang dibiayai oleh kredit tersebut ternyata ‘tidak pasti’.

6. Keberadaan uang kartal, uang giral dan kemudian uang digital. Uang kartal adalah uang yang nyata secara fisik berupa uang kertas atau uang logam (koin). Sedangkan uang giral adalah uang yang terdapat dalam pencatatan sistem perbankan dan lembaga keuangan lainnya. Dengan sistem perbankan yang terkomputerisasi maka di mana letak uang giral tersebut? Jawabannya adalah kebanyakan ditaruhnya di hard-disk! Dengan tumbuhnya internet, e-business dan sebagainya maka saat ini juga dikenal adanya uang digital. Yaitu uang sebagai hasil konversi dari uang kartal maupun uang giral sehingga dapat digunakan sebagai uang di jagat maya internet. Uang digital inipun kebanyakan ditaruh di hard-disk juga! Sekali uang menjadi bentuk giral atau digital, maka mudah sekali ditransfer serta digunakan untuk alat bayar atau investasi antar benua sekalipun dengan kecepatan dan mobilitas yang sangat tinggi.

7. Tipikal karakter mayoritas manusia sebagai insan ekonomi adalah selalu ingin untung (sampai akhirnya jadi tamak) dan selalu tidak mau rugi (sampai akhirnya jadi takut). Dua faktor tersebut yang mendominasi kebanyakan tindakan ekonomi manusia. Harga aset (bisa berupa uang, barang, properti, sekuritas dsb) bisa melambung tinggi atau jatuh bebas gara-gara di perdagangkan antar sesama insan ekonomi yang sama-sama tamak keuntungan dan takut rugi.

8. Sekuritisasi dan derivasi sekuritas. Aset (bisa uang, saham, properti dan sebagainya) bisa direpresentasikan menjadi sekuritas (surat berharga) sehingga lebih mudah dan lebih ‘mobile’ untuk diperdagangkan. Sekuritaspun bisa dibuat macam-macam lagi turunannya (derivat dari sekuritas) sehingga menjadi lebih menarik dan seringkali sekaligus lebih beresiko apabila diperdagangkan. Trend bursa sekuritas di dunia sekarang ini mengarah ke paperless (surat berharganya tidak pakai kertas lagi karena di konversi menjadi bentuk digital) jadi semakin mudah dan lebih cepat lagi untuk diperdagangkan sehingga sangat mudah dijadikan ajang spekulasi.

9. Ekonomi ternyata telah tumbuh menjadi besar dan mungkin masih akan terus tumbuh sampai begitu besar ukurannya sehingga hanya imajinasi dan langit yang menjadi batasnya. Karena telah tumbuh begitu besar dan menjadi kompleks maka ekonomi menjadi semakin sulit di kontrol. Saat ini persatuan negara-negara maju pun sudah terbukti makin tidak mampu lagi untuk mengendalikan perekonomian global.

10. Manusia hakekatnya bersifat dhaif, sehingga lemah, mudah lupa dan jarang ada yang mau belajar dari sejarah.

Ya, demikianlah alasan-alasan dari prediksi saya tentang krisis keuangan global yang akan selalu terus berulang di masa depan apabila tidak ada perbaikan situasi terhadap faktor-faktor di atas yang banyak mengandung titik lemah. Namun demikian saya sangat berharap agar krisis keuangan global ini segera cepat berlalu dan setelahnya semua pihak yang berkepentingan dapat mengambil hikmah agar peristiwa serupa tidak terulang lagi di masa depan.

Seribu tahun yang akan datang para ahli arkeologi menemukan satu metode yang jitu. Untuk merekonstruksi kebudayaan masa lalu. Tidak perlu lagi menggali-gali tanah. Mencari tulang-belulang yang telah membatu menjadi fosil. Atau mencari artefak-artefak sisa bangunan jaman dahulu. Cari saja hardisk-hardisk bekas server facebook. Di sanalah arsip kebudayaan sekitar tahun dua ribuan tersimpan.

Setelah susah payah mencoba meng’hidup’kan salah satu hardisk yang pada saat itu teknologinya sudah tidak ada lagi. Maka akhirnya terlihatlah ‘situs’ sejarah yang hendak di kuak. Mas Rully Hidayat yang menjadi juragan BTS. Bung Kafi Kurnia yang meskipun menggunakan jurus Anti Marketing tapi malah sukses secara Marketing. Mbak Luki Adiati capek sesudah pulang dari acara halal bi halal. Mbak Betti Alsjahbana memandu bagaimana caranya membuat perencanaan bisnis. Mas Gadjahmada lagi senang-senangnya main golf. Mas Djaduk Ferianto mencangkul di Jakarta. Pak Yudi Pramudiana concern dengan monoloyalitas customer yang terus berkurang. Rama Garditya menjadi dokter jaga di RSCM. Adiknya, Nandita Melati Putri sudah sampai di kampus jam 6 pagi. Bung Perdana Wahyu Santosa keukeuh mengedukasi pasar tentang pasar modal. Dan Pak Onno W. Purbo yang menulis 8 buku sekaligus. Serta Mas Bubi Sutomo yang jago mengemas isue tekno-ekonomi dengan bahasa yang puitis.

Para ahli arkeologi seribu tahun yang akan datang terperangah seakan tak percaya sambil berkumpul di depan layar komputer super canggih. “Lho, ternyata nenek moyang kita di tahun dua ribuan sibuk mengembangkan budaya yang positif ya?”. Kata profesor ketua tim arkeologi keheranan. “Lantas mengapa bumi sekarang meranggas gundul tanpa hutan tanaman sama sekali?”, seorang anggota muda peneliti bertanya. “Bahkan bumi penuh sampah plastik dan zat-zat lain yang sulit bisa terurai. Udaranya juga penuh awan racun radiasi bekas perang nuklir yang tidak terkendali??” tambahnya penuh kebingungan. “Bahkan kita sekarang harus hidup berkoloni di Planet NX3P yang berada beberapa galaksi jauhnya dari bumi. Mengungsi beratus tahun yang silam dari bumi yang sudah tidak layak huni lagi. Tempat nenek moyang kita berasal dahulu kala”, sang profesor menekankan. “Sudah-sudah! Ternyata hardisk ini isinya orang-orang baik semua. Orang-orang cinta damai yang menyayangi bumi. Ayo kita cari terus siapa saja penjahatnya di hardisk-hardisk yang lain!!!”, sergahnya penuh semangat.

Archives

June 2021
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930